Tragedi Longsor Cilacap, Presiden Prabowo Pantau Penanganan

Siap.click – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M. memimpin langsung penanganan tragedi longsor di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap sejak Senin (17/11/2025).

Setelah tiba di area bencana, Suharyanto langsung memimpin pertemuan koordinasi dengan jajaran penanganan darurat, antara lain Bupati Cilacap Syamsul Aulia Rachman, Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Jarwansyah, Direktur Operasional Basarnas Laksma TNI Bramantyo, Dandim 0703/Cilacap Letkol Inf. Andi Azis, serta unsur Forkopimda Kabupaten Cilacap.

Dalam rapat tersebut, Suharyanto menyampaikan apresiasi atas sinergi seluruh pihak dalam menangani kejadian ini. “Bapak Presiden Prabowo setiap hari memantau peristiwa longsor ini. Alhamdulillah, kerja sama di sini sudah bagus. Operasi SAR berhasil bukan karena beruntung, namun dilakukan dengan perencanaan yang baik,” ujar Suharyanto dalam keterangan pers BNPB di Jakarta, Selasa (18/11/2025). Suharyanto menyatakan optimisme tujuh warga yang masih belum ditemukan dapat segera dievakuasi. Ia menegaskan operasi modifikasi cuaca (OMC) melalui udara akan tetap berlangsung untuk mendukung percepatan pencarian. Mulai Selasa (18/11/2025), BNPB menambah satu pesawat untuk memperkuat operasi, sehingga total dua armada diterjunkan untuk mitigasi cuaca di wilayah Cilacap dan Banjarnegara.

Ia juga menekankan perlunya pemerintah daerah mulai menyusun langkah pemulihan pascatanggap darurat, terutama karena terdapat 269 kepala keluarga (KK) yang terdampak baik karena kehilangan tempat tinggal maupun berada di wilayah berisiko tinggi. Hasil analisis Badan Geologi menunjukkan kawasan Majenang masih berada dalam potensi gerakan tanah menengah, dipengaruhi kondisi lahan perbukitan dan tanah pelapukan yang tebal serta jenuh air.

“Saya senang Pak Bupati sigap mencari lahan relokasi. Laporan yang saya terima, lokasinya sudah ada dan tidak jauh, sekitar 2,5 kilometer,” kata Suharyanto. Ia menegaskan bahwa lokasi baru harus dipastikan aman melalui survei geologi. BNPB juga memastikan kesiapan pembangunan hunian sementara (huntara) setelah lahan disetujui. Nantinya huntara tersebut akan dikembangkan menjadi hunian tetap (huntap). “Huntara nanti BNPB yang akan membangun dibantu TNI dan Polri. Kapan waktunya? Secepatnya,” tegas Suharyanto.

Belum Ditemukan

Di sisi lain, operasi pencarian pada Senin (17/11/2025) memasuki hari kelima. Hujan yang turun pada pukul 15.00 WIB membuat tim SAR harus menghentikan sementara kegiatan pencarian demi keselamatan. Tiga jenazah ditemukan di sektor A2, sehingga masih ada tujuh korban yang belum ditemukan hingga pukul 18.00 WIB. Upaya pencarian dilanjutkan pada Selasa (18/11/2025) mulai pukul 05.30 WIB, menggunakan lima teknik utama: pemantauan udara dengan drone, penggunaan anjing pelacak, pengerahan alat berat, metode ekstrikasi baik manual maupun modern, dan bantuan alkon. Pencarian dipusatkan pada sektor A1, B1, dan B2.

Setelah rapat koordinasi, Suharyanto bergerak menuju Balai Desa Cibeunying, lokasi penampungan sementara bagi 65 warga. Ia mendengarkan langsung keluhan serta kebutuhan para pengungsi. Di hadapan warga, Suharyanto menyampaikan operasi pencarian tidak akan dihentikan sampai seluruh korban ditemukan. Ia memastikan pemerintah akan membangun permukiman baru yang aman bagi warga terdampak. “Bapak, Ibu, saya turut prihatin. Seenak-enaknya tinggal di pengungsian, pasti lebih nyaman tinggal di rumah sendiri,” ujar Suharyanto. Ia menambahkan area relokasi akan segera melalui proses survei untuk menjamin kelayakan dan keamanannya.

BNPB turut menyalurkan dukungan logistik berupa sembako, peralatan kebersihan, matras, selimut, serta pakaian untuk berbagai kategori usia. Suharyanto menekankan pentingnya memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi. “Bapak/Ibu, jika membutuhkan sesuatu, jangan sungkan meminta bantuan. Tim BNPB mendampingi Bapak/Ibu di sini,” katanya. Menutup kunjungan, ia menyampaikan apresiasi atas dedikasi seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan bencana tragedi longsor Cilacap, sebagai wujud solidaritas dan kerja kemanusiaan.

Share