Siap.click – Perairan Maluku Utara kembali menjadi saksi betapa ganasnya laut. Kapal penumpang KM Indriani yang tengah berlayar dari Pelabuhan Umum Babang menuju Piharaja, Halmahera Selatan, tenggelam di Perairan Desa Bibinoi, Kecamatan Bacan Timur, Jumat (23/1/2026).
Di atas kapal tersebut terdapat 63 orang sampai 59 penumpang dan 4 Anak Buah Kapal (ABK). Sebagian berhasil selamat setelah kapal dan perahu nelayan yang kebetulan melintas memberikan bantuan evakuasi awal.
Dinas Penerangan Angkatan Laut (Dispenal) Markas Besar TNI Angkatan Laut (Mabesal) menjelaskan operasi pencarian dan pertolongan dilakukan secepatnya setelah laporan diterima Basarnas Halmahera Selatan. “Begitu informasi masuk tentang insiden kapal tenggelam di perairan Bibinoi, unsur SAR gabungan langsung bergerak menuju lokasi,” ujar Dispenal.
Menurut Dispenal, operasi penyelamatan melibatkan unsur Pos TNI AL Bacan, Basarnas Halmahera Selatan, Babinsa Kodim 1509/Labuha, serta Satpolairud Bacan. “Sinergi antarinstansi menjadi kunci dalam operasi SAR semacam ini, karena setiap menit sangat menentukan keselamatan korban,” tutur Dispenal.

Kelebihan Muatan
Meski mayoritas penumpang berhasil dievakuasi ke darat, tragedi itu tetap menyisakan luka. Dilaporkan satu orang meninggal dunia dan satu lainnya masih dinyatakan hilang. Tim SAR gabungan masih melakukan pencarian lanjutan di sekitar perairan yang dikenal memiliki ombak cukup tinggi pada musim berjalan. “Fokus kami adalah pencarian korban hilang, sambil memastikan seluruh penumpang lain dalam kondisi aman,” jelas Dispenal.
Terkait penyebab kecelakaan, Dispenal menyebut sejumlah faktor diduga berperan. Kombinasi gangguan mesin, kondisi cuaca yang ditandai gelombang tinggi, serta dugaan kelebihan muatan menjadi penyebab terkuat. “Kecelakaan laut biasanya dipengaruhi banyak aspek. Dalam kasus ini, cuaca dan kelayakan kapal turut berpengaruh,” ucap Dispenal. Selain faktor teknis, kurangnya pengawasan terhadap muatan dan jumlah penumpang juga disebut dapat memperbesar risiko selama pelayaran.
Peristiwa tenggelamnya KM Indriani mengingatkan kembali bahwa pelayaran antar-pulau di wilayah timur Indonesia masih menghadapi tantangan berat. Bagi warga Bibinoi dan Bacan, laut bukan hanya jalur transportasi, tetapi juga bagian dari ritme kehidupan sehari-hari dan di hari itu, laut memaksa mereka menyaksikan sisi lainnya yang berbahaya.

