Siap.click – Kondisi ketinggian banjir di kawasan Semarang Raya mulai menurun berkat upaya memadukan dua metode di langit yaitu operasi modifikasi cuaca (OMC) dan di bumi yaitu dengan pompanisasi. Penanganan darurat yang dilakukan secara terkoordinasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memberikan hasil nyata, dengan penurunan genangan di beberapa titik yang sebelumnya terendam.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, Ph.D. mengatakan hasil pemantauan lapangan oleh BNPB, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), serta Dinas Sumber Daya Air dan Tata Ruang menunjukkan adanya tren penurunan ketinggian air. “Jalan Raya Kaligawe sudah mulai dapat dilintasi oleh kendaraan roda dua, meski pengguna jalan tetap harus waspada ketika melintas,” terang Muhari.
Kolam retensi Terboyo, yang menjadi area penampungan aliran air banjir, turut menunjukkan penurunan tinggi muka air hingga 65 sentimeter. Hal itu merupakan hasil dari pompanisasi yang berjalan lebih dari lima hari. Selain mengoperasikan pompa secara maksimal, BBWS dan BNPB juga memperlebar saluran pembuangan air dari kolam retensi menuju Laut Jawa dengan pengawasan intensif agar proses berjalan optimal.
Meski demikian, masih terdapat genangan di 13 kelurahan di Kecamatan Genuk, khususnya pada area permukiman yang memiliki elevasi lebih rendah dibandingkan kolam retensi Terboyo Wetan. Operasi pompa BNPB masih terus berlangsung di rumah pompa Sringin dan Terboyo Wetan.
Modifikasi Cuaca
Menurut Muhari, situasi tersebut juga dipengaruhi oleh turunnya intensitas hujan di wilayah Semarang Raya. Operasi modifikasi cuaca (OMC) yang dilakukan BNPB telah memberikan dampak signifikan dengan menekan curah hujan hingga 70 persen. Hingga Minggu (2/11/2025), operasi ini telah berjalan selama delapan hari. “Bahan semai seperti Natrium Klorida (NaCl) dan Kalsium Oksida (CaO) digunakan untuk mengurangi pembentukan awan hujan dan mengarahkan hujan ke wilayah tampungan air seperti embung, waduk, atau sungai yang elevasinya aman. Dengan begitu, kinerja tim pompanisasi bisa lebih maksimal,” jelas Muhari.
BMKG memprediksi curah hujan tinggi akan mulai mencapai puncak pada bulan Januari dan Februari. Sementara pada November dan Desember, intensitasnya masih berada pada level relatif aman.
Perkuat Mitigasi
Dalam keterangannya, Muhari mengajak warga untuk menjaga lingkungan dan saluran air agar aliran air tidak terhambat. Langkah yang dapat dilakukan antara lain tidak membuang sampah sembarangan, memperbaiki resapan air, serta melakukan pembersihan saluran permukiman secara berkala.
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan mitigasi oleh pemerintah daerah. “Permasalahan banjir di Semarang tidak hanya terkait genangan, tetapi juga menyangkut penataan ruang, pembangunan wilayah, serta koordinasi antarinstansi yang perlu diperkuat agar penanganannya lebih efektif,” tegas Muhari.

