Dua Siswa SMPN 189 Jakarta Tarung di Olahraga Tradisional Benjang Fornas VIII 2025 NTB

siap.click – Dua siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 189 Jakarta tampil pada ajang Festival Olahraga Masyarakat Nasional (Fornas) VIII 2025, Nusa Tenggara Barat (NTB). Keduanya adalah Akmal Fadhlurrahman dan Muhammad Kafahbi Arafah, menjadi wakil DKI Jakarta dalam induk olahraga (inorga) Perkumpulan Seni Olahraga Benjang Indonesia (PSOBI).
Di tengah hiruk pikuk pesta olahraga masyarakat terbesar di Indonesia itu, keduanya tampil percaya diri dan membawa semangat tinggi mewakili sekolah dan provinsi mereka. Meski baru mengenal Benjang, keduanya tak gentar bertarung.
Akmal, siswa kelas 8F, mengungkapkan awal mula keterlibatannya adalah ketika guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) SMPN 189, Andre Yanse, mengajaknya untuk mencoba olahraga tradisional khas tanah Sunda tersebut.
“Saya belum tahu apa itu Benjang. Tapi setelah ditawari ikut, saya langsung cari tahu lewat TikTok dan media sosial. Saya pelajari cara mainnya dan aturan dasarnya,” ujar Akmal ditemui di arena pertandingan Benjang, Gelanggang Pemuda Mataram, NTB, Rabu (30/7/2025)
Bekal pengalaman di dunia bela diri membuat Akmal cepat beradaptasi. Ia mengaku menguasai teknik-teknik beladiri, termasuk teknik gulat, membantunya menyesuaikan diri dalam olahraga Benjang.
“Saya sering ikut pertandingan. Jadi saya siap secara fisik dan mental,” tambah Akmal. “Senang dan bersyukur kali ini bisa mewakili sekolah dan DKI Jakarta di Fornas. Mudah-mudahan bisa menang,” cetus Akmal.
Sementara itu, Kafahbi, siswa kelas 9F SMPN 189 Jakarta, mengaku baru mengenal olahraga Benjang sekitar enam bulan lalu. Perkenalannya pun bermula dari ajakan yang sama oleh guru PJOK untuk mengikuti seleksi atlet dari PSOBI DKI Jakarta. “Awalnya saya enggak tahu Benjang itu apa. Setelah cari tahu di internet, ternyata ini semacam gulat tradisional. Saya pelajari terus sampai bisa,” kata Kafahbi.
Dengan memiliki latar belakang ilmu beladiri dan pengalaman di sejumlah kompetisi, Kafah merasa lebih percaya diri menghadapi pertandingan Benjang tingkat nasional. “Saya optimistis bisa menampilkan performa terbaik,” ujar Kafahbi.
Selama proses persiapan hingga keberangkatan ke NTB, kedua siswa ini didampingi oleh guru mereka, Andre Yanse, yang menjadi pembimbing sekaligus pelatih di sekolah.
Sementara itu Ketua PSOBI DKI Jakarta, Herizal, menyatakan pihaknya memberangkatkan empat atlet bela diri dari DKI Jakarta untuk mengikuti pertandingan Benjang pada Fornas VIII 2025.
“Ada dua dari SMPN 189 Jakarta Barat, satu dari SMA Said Naum Jakarta Pusat, dan satu dari MTsN 27 Joglo Jakarta Barat,” ujar Herizal. Ia menyebut, proses sosialisasi olahraga Benjang sudah dilakukan sejak satu tahun lalu untuk menjaring minat pelajar.
“Alhamdulillah hari ini mereka siap bertanding. Mudah-mudahan kita bisa membawa hasil terbaik,” kata Herizal. Para atlet DKI Jakarta akan bertanding dalam dua kategori, yakni pelajar dan senior. Pada kategori pelajar, mereka akan bertarung di kelas 47 kg, 52 kg, 56 kg, dan kelas bebas (lebih dari 70 kg), semuanya untuk usia 14–16 tahun.
Herizal juga menyampaikan PSOBI DKI Jakarta sudah tiga kali ikut serta dalam ajang Fornas. “Di Fornas Palembang kita dapat dua perak dan satu perunggu. Di Fornas Jawa Barat, satu emas, satu perak, dan satu perunggu. Dan Insyaallah di Fornas NTB 2025 kita bisa lebih baik lagi,” ungkap Herizal.
Ketua Umum Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (Kormi), Adil Hakim, meninjau langsung pertandingan Benjang di Kota Mataram. Adil menjelaskan, Benjang merupakan olahraga tradisional yang berakar dari budaya Sunda. Ia merasa bangga karena olahraga khas Jawa Barat ini kini tak hanya berkembang di daerah asalnya, tetapi juga diterima luas termasuk oleh masyarakat NTB dan berbagai daerah lain di Indonesia.
“Yang lebih membanggakan, Benjang kini diminati generasi muda. Ini menunjukkan bahwa semangat budaya masih hidup di tengah arus modernisasi,” ujar Adil, didampingi jajaran pengurus Korminas, Ketua Penyelenggara Fornas VIII NTB Ibnu Riza Pradipto, dan Ketua Umum PSOBI Ari Yuniawan.
Adil mengakui bahwa menjaga dan mewarisi tradisi di era modern yang serba digital bukanlah hal mudah. Namun berkat semangat kolaborasi, kecintaan pada budaya, dan komitmen yang kuat, olahraga tradisional seperti Benjang bisa terus berkembang dan menarik minat kalangan muda.
Lebih dari sekadar warisan budaya, kata Adil, Benjang kini telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Ia pun mengapresiasi inorga PSOBI yang dinilainya berperan besar dalam menghidupkan kembali ruang-ruang olahraga tradisional masyarakat.
Menurutnya, PSOBI tidak hanya melestarikan olahraga rakyat, tetapi juga berkontribusi dalam pembinaan karakter dan mempererat kebersamaan. “Semangat ini sejalan dengan gerakan Kormi, yaitu mendorong masyarakat hidup sehat, aktif, dan berbudaya melalui olahraga yang membumi, disenangi, dan inklusif,” pungkas Adil.

Share